1. jelaskan apa yang anda pahami tentang perang siber
(cyber war)
Cyber
warfare (Cyberwar), merupakan perang yang
sudah menggunakan jaringan komputer dan Internet atau dunia maya (cyber
space) dalam bentuk strategi pertahanan atau penyerangan sistim informasi
lawan. Cyber warfare
juga dikenal sebagai perang cyber
yang mengacu pada penggunaan fasilitas www (world wide web) dan jaringan
komputer untuk melakukan perang di dunia maya. Kegiatan cyber warfare dewasa ini sudah dapat dimasukan dalam
kategori perang informasi berskala rendah (low-level information warfare) yang
dalam beberapa tahun mendatang mungkin sudah dianggap sebagai peperangan
informasi yang sebenarnya (the real information warfare).
Cyberwar juga dikenal
sebagai perang cyber mengacu pada penggunaan word wide web dan computer untuk
melakukan perang didunia maya. Walaupun terkadang relative minimal dan ringan,
sejauh ini perang cyber berpotensi menyebabkan kehilangan secara serius dalam
system data dan informasi, kegiatan militer dan kegiatan lainnya, cyber warfare
berarti dapat menimbulkan seperti resiko bencana diseluruh dunia.
"Cyber warfare" berkembang
dari "cyber crime" yang memiliki arti bentuk-bentuk kejahatan yang
ditimbulkan karena pemanfaatan teknologi internet jaringan komputer seperti
menyebar virus yang merusak akses informasi, membajak atau mencuri informasi,
mengubah informasi secara ilegal, hingga memata-matai akses informasi. Seperti
contoh, pada saat perang Irak-AS, disana diperlihatkan bagaimana informasi
telah diekploitasi sedemikian rupa mulai dari laporan peliputan TV, Radio
sampai dengan penggunaan teknologi sistim informasi dalam cyber warfare
untuk mendukung kepentingan komunikasi antar prajurit serta jalur komando dan
kendali satuan tempur negara-negara koalisi dibawah pimpinan Amerika Serikat
2. fenomena perang siber
Istilah-istilah seperti cyber war,
cyber attack, cyber espionage, cyber crime pun makina akrab kita dengar.
Sekarang target kejahatan internet tidak hanya terkjadi antar pribadi dan
organisasi, tapi juga sudah dilakukan antar Negara. Kevin Haley, Direktur
Security Respon Symantec mengatakan bahwa serangan cyber sudah setara dengan saber
rattling. Setiap negara, organisasi, atau grup individu berusaha menunjukkan
kekuatan serangan sembari mengirimkan pesan-pesan tertentu.
Dengan banyaknya istilah-istilah
kejahatan syber seperti yang diungkapkan diatas sudah sangat jelas bahwa
fenomena perang siber bukan hal yang baru. Dunia siber tidak hanya menyusup
kedalam permasalah antarnegara saja melainkan juga merambat kedalam
permasalahan perorangan/individu. Dengan perkembangan teknologi yang semakin
hari semakin canggih diikuti pula dengan merajalelanya kejahatan yang
memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut. Dalam ruang lingkup kecil saja
sudah banyak Anonymous-anonymous yang sangat menggangu sebuah sistem kenyaman
perorangan.
Seperti hal Situs resmi Takhta Suci
Vatikan pun ikutan kebakaran jenggot saat jaringannya mati total sebagai wujud
protes peretas atas skandal sodomi. Tak sampai di situ, Anonymous berhasil
menguak data mengenai konspirasi terbesar abad ini yakni runtuhnya menara World
Trade Center pada 9 September 2001. Mereka pula yang berhasil mengungkap data
jenazah Usamah Bin Ladin dibakar dan bukan dibuang ke laut seperti diberitakan
pemerintah Amerika.
Situs yang memuat berbagai kegiatan presiden
itu diubah tampilannya, hanya ada gambar dengan ikon labu mirip gambar pocong
bertuliskan jemberhacker.web.id dengan latar belakang berwarna hitam, serta
tulisan “! Hacked by MJL 007 ! This is a PayBack From Jember Hacker Team.” Pada
umumnya, deface menggunakan teknik Structured Query Language (SQL) Injection,
namun untuk kasus situs SBY, menurut sejumlah praktisi teknologi informasi,
kemungkinan besar terjadi Domain Name System (DNS) Poisoning atau populer
disebut DNS Hijack (pembajakan DNS), bukan server situs Presiden SBY yang
diretas, tetapi terjadi pembelokan ke situs lain. Pembajakan DNS biasanya
dilakukan jika server susah diretas.
Dengan peristiwa yang terjadi itu
dengan demikian kejahatan didunia siber dapat mengacaukan personal dari seorang
pemimpin didalam suatu negara. Adanya kekuatiran teraksesnya data pribadi yang
seharusnya tidak diketahui oleh publik. Pada kesimpulannya Anonymous pada
dasarnya melakukan pemberontakan dengan mengacaukan personal seseorang.
Hal ini dilakukan karena ketidak puasan terhadap tindakan-tindakan yang
dilakukan baik pemimpin atau kapada sekelompok individu.
Beberapa penyedia jasa layanan
keamanan internet memprediksi bahwa serangan kejahatan di internet akan makin
ganas di tahun 2013. Sedikitnya ada lima tren serangan yakni maraknya man in
browser attack, watering hole attack, mobile malware, cross platform attack,
dan hypervisor attack.
3. Dampak perang siber
1. Cyber berupa virus
komputer mampu mengubah formula kimia instalasi penjernihan air untuk jutaan
penduduk, merusak kestabilan instalasi nuklir dengan memperlambat atau
mempercepat motor penggerak atau bahkan membuat berputar jauh diatas kecepatan
maksimum sehingga menghancurkan sentrifuse reaktor nuklir.
2. Hacker mampu
mengubah laman situs KPU dari warnet di Sleman Yogyakarta. Motifnya
‘mempermalukan’ dan tidak sampai membahayakan.
3. dampak lainnya yang
diakibatkan oleh perang siber iini adalah yaitu salah satu contohnya Stuxnet
mampu menyusup masuk dan menyabot sistem dengan cara memperlambat ataupun
mempercepat motor penggerak, bahkan membuatnya berputar jauh di atas kecepatan
maksimum. Kecepatan ini akan menghancurkan sentrifuse atau setidaknya merusak
kemampuan alat itu untuk memproduksi bahan bakar uranium.
4. Merusak kestabilan
ekonomi. Seperti dalam scope Indonesia, sudah sering terjadi Cyber Crime,
biasanya yang disasar institusi perbankan atau institusi finansial lain. Pada
tahun 1998, misalnya Hacker mampu mengubah laman situs KPU dari warnet di
Sleman Yogyakarta. Motifnya ‘mempermalukan’ dan tidak sampai membahayakan.
5.
Stabilitas keamanan sebuah Negara melemah, dikarenakan serangan dari
pasukan cyber Negara lain, seperti yang terjadi di Negara Iran yaitu terjadinya
sebuah ledakan besar. Ledakan besar itu merobek pangkalan Korps Garda Revolusi pada
12 November 2011, meratakan sebagian besar bangunan dan menewaskan 17 orang,
termasuk Pendiri program rudal balistik Iran, Jenderal Hassan Tehrani
Moghaddam, kata The Los Angeles Times Minggu malam.